Tips Menjual Rumah Warisan yang Menguntungkan

Apakah Anda berencana untuk menjual rumah warisan? Pada umumnya orang tua yang telah meninggal mewariskan harta, termasuk rumah kepada anak-anaknya. Bagi mereka yang mendapatkan warisan berupa rumah, biasanya akan menjual rumah tersebut agar dapat dibagi secara adil. Namun menjual rumah warisan bukanlah perkara mudah. Ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan oleh ahli waris. Nah, jika Anda juga berniat menjual rumah warisan, sebaiknya perhatikan beberapa tips berikut ini agar mendapatkan hasil sesuai harapan dan terhindar dari konflik.


1. Berunding dengan semua ahli waris

Langkah awal sebelum menjual rumah warisan adalah melakukan perundingan dengan seluruh ahli waris. Apabila semua telah setuju, maka rencana dapat dijalankan. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya sengketa tanah di kemudian hari dan mempermudah transaksi, terutama saat penandatanganan Akta Jual Beli (AJB). Semisal saat penandatanganan ahli waris berhalangan hadir, maka bisa digantikan dengan orang yang ditunjuk untuk mewakili. Sebesar apapun hasil penjualan rumah warisan, akan berubah jadi kerugian ketika salah satu ahli waris tidak menyepakati.

2. Mengetahui dokumen yang diperlukan

Menjual rumah warisan berbeda dengan transaksi biasanya. Diperlukan beberapa dokumen khusus agar proses jual bisa sah dan berjalan dengan lancar, yakni Surat Keterangan Kematian dan Surat Keterangan Waris. Surat Keterangan Kematian berisi penjelasan bahwa orang tua Anda benar-benar telah meninggal. Surat ini harus mendapatkan tanda tangan dan cap dari kantor dinas kependudukan dan catatan sipil.

Sedangkan Surat Keterangan Waris berisi nama-nama ahli waris. Pembuatan surat ini harus disaksikan oleh orang-orang yang telah ditetapkan pemerintah. Berdasarkan SK Depdagri Direktorat Pendaftaran Tanah No. DPT/12/63/12/69 juncto Pasal 111 ayat 1C butir 4 Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertahanan Nasional No.3 Tahun 1997, pihak yang harus menjadi saksi adalah lurah atau kepala desa dan camat bagi WNI asli, notaris bagi WNI keturunan Tionghoa dan Eropa, dan Balai Harta Peninggalan (BPH) bagi WNI keturunan Arab atau India.

3. Mengetahui biaya yang dibebankan bagi ahli waris

Selain mengetahui dokumen, Anda juga perlu memperhitungkan biaya yang harus ditanggung. Hal ini berguna untuk memperkirakan harga jual rumah agar tetap menguntungkan. Adapun biaya yang harus Anda tanggung selaku ahli waris adalah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTP).

Perhitungan besar BPHTP sama dengan jual beli rumah pada umumnya, yakni 5 % x (NPOP- NPOPTKP). NPOP adalah Nilai Perolehan Objek Pajak, sedangkan NPOPTKP merupakan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak yang besar di masing-masing daerah berbeda. Anda bisa memperoleh detail informasi mengenai pajak ini dari Kantor Pajak atau Kantor Pertanahan.

4. Tidak menggunakan perantara

Saat menjual rumah warisan sebaiknya Anda melakukan sendiri, tanpa perantara. Hal ini dikarenakan rumah warisan menyangkut kepentingan banyak pihak dan pajaknya-pun cukup besar. Ketika proses transaksi usahakan Anda mendokumentasikannya, baik melalui foto maupun video sebagai bukti kuat apabila nanti terjadi permasalahan.

Demikian beberapa tips yang perlu Anda lakukan agar memperoleh keuntungan saat menjual rumah warisan. Sekali lagi, kesepakatan seluruh ahli waris adalah hal paling penting. Jangan sampai tali persaudaraan terputus karena keegoisan dan keinginan memiliki harta. Semoga bermanfaat untuk rencana Anda menjual rumah warisan.